Kamis, 12 Desember 2013

Laporan Akhir Ekologi Pertanian di Jatikerto Malang



LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN
STUDI LAPANG DI 3 TEMPAT YANG BERBEDA
(JATIKERTO, MALANG, DAN CANGAR)
Disusun Oleh:
Kelompok: 2
Kelas: H Agribisnis
Asisten : Kak Sutrisno

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN
STUDI LAPANG DI 3 TEMPAT YANG BERBEDA
(JATIKERTO, MALANG, DAN CANGAR)
Oleh : KELOMPOK 2
          Kelas H Agribisnis
Nama :                                                                         NIM :
Za’inatul Khiptiyah                                         125040101111029
Dini Rahma Fathi                                            125040101111030
Imama Nurus Izaati                                        125040101111031
Harja Gunadi                                                  125040101111032
Anugrah Rizki Pratama                                   125040101111033
Evie Octarina                                                  125040101111034
Melati Natalia Lumbaobing                            125040101111035
Devi Hardianti                                                            125040410111036
Danang Permadhi                                           125040101111037
Dwi Septiana Wulandari                                 125040101111038
Alby Irsyad                                                     125040101111039
Eka Andriani Kartikasari                                125040101111040
Tria Rosita Maharani                                       125040101111041
Tara Octavira                                                  125040101111042
Trianita Ambarwati                                         125040101111043
Resty Fauzia                                                   125040101111044
Roida Rima Melati                                          125040101111045
Linda Hariani                                                  125040101111046
Riski Wulandari                                              125040101111047
Kartika Alvi A K                                            125040101111048

Asisten : Sutrisno




FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG





LEMBAR PENGESAHAN

Mengesahkan


Asisten,



Sutrisno
NIM.
Co Asisten



Adi Setiawan















I.                  PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Ekologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu.Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Dalam arti sempit, pertanian juga diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan sebidang lahan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu, terutama yang bersifat semusim.
Jadi Ekologi Pertanian adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara makhluk hidup, dan hubungan antar makhluk hidup dengan lingkungan. Oleh karena itu dalam ekologi pertanian, dipelajari studi iklim mikro yang mencakup tentang suhu dan kelembaban tanah, pengukuran biomassa pohon, analisis vegetasi, dan keanekaragaman arthropoda.

1.2     Rumusan Masalah
-       Apa perbandingan di Malang, Cangar, dan Jatikerto?
-       Bagaimana kondisi lapang?
1.3     Tujuan
-       Memenuhi tugas praktikum ekologi pertanian
-       Mengetahui analisis vegetasi dan faktor abiotik (suhu udara, radiasi matahari) yang ada di Malang, Cangar, dan Jatikerto
-       Mengetahui keragaman arthropoda pada agroekosistem Malang, Cangar, dan Jatikerto
-       Mengetahui perbandingan vegetasi dan arthropoda antara Malang, Cangar, dan Jatikerto

1.4     Manfaat
-       Memahami keadaan vegetasi di Malang, Cangar, dan di Jatikerto sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan terhadap sang pembaca
-       Dapat mendeskripsikan perbandingan keadaan vegetasi di masing-masing tempat
-       Dapat mengidentifikasi keanekaragaman artropoda di Malang, Cangar, dan di Jatikerto
-       Dapat membandingkan keragaman arthropoda di masing-masing tempat













II.               TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Analisis Vegetasi dan Faktor Abiotik (Suhu Udara, Radiasi Matahari)
Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Sedangkan faktor abotik adalah salah satu komponen atau faktor dalam lingkungan. Komponen abiotik adalah segala sesuatu yang tidak bernyawa seperti udara, suhu, dan radiasi matahari. Faktor abiotik antara lain meliputi:
a.    Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup.Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu. Faktor yang mempengaruhi suhu diantaranya: topografi, ketinggian suatu tempat, sudut datang sinar matahari, lama penyinaran, luas tajuk tanaman.
b.   Radiasi Matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis. Faktor yang mempengaruhi radiasi matahari: intensitas cahaya, panjang hari, dan atmosfer.

2.2     Faktor Abiotik (Tanah)
Faktor abiotik yang mempengaruhi ekosistem adalah Tanah. Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.
Fungsi tanah diantaranya:
1.      Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
2.      Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)
3.      Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)
4.      Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama dan penyakit tanaman.
Dua pemahaman penting tentang tanah:
1.      Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, dan
2.      Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama dan penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri yang berbahaya.
Klasifikasi tekstur tanah: pasir, debu, dan liat.
Klasifikasi yang mermpengaruhi: iklim, bahan induk, topografi, organisme, dan waktu.

2.3     Faktor Biotik (Keanekaragaman Arthropoda dalam Agroekosistem)
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.
Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu system yang menunjukkan kesatuan.
Arthropoda berasal dari kata arthron yang berarti ruas dan podos yang berarti kaki. Arthropoda adalah binatang yang kakinya beruas-ruas termasuk juga bagian perut (abdomen) dan dada (toraks) yang beruas-ruas. Contoh: nyamuk, lalat, kecoak, kutu, udang, kaki seribu, dan lain sebagainya. Peran arthropoda dalam kehidupan ekosistem antara lain hama, predator, parasitoid, vector dan pollinator. Peran arthropoda dalam perombakan bahan organik untuk menjaga kesuburan tanah, dengan kata lain menjaga siklus hara dalam ekosistem.
Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan sejenis lainnya.
Klasifikasi Arthropoda:
Animalia
Invertebrata
Chordata
Vertebrata
Nematoda
Mollusca
Arthropoda
Hexapoda
(insekta)
Crustacea
Arachnida
Diplopoda
Chilopoda
 
















III.           METODOLOGI

3.1     Alat, bahan beserta fungsinya
3.1.1     Analisis Vegetasi dan Faktor Abiotik (Suhu Udara dan Radiasi Matahari)
No.
Alat dan Bahan
Fungsi
1.
2.
3.
4.
Luxmeter
Termohidrometer
Termometer
Penggaris
Untuk megukur cahaya
Untuk mengukur suhu udara
Untuk mengukur suhu dalam tanah
Untuk mengukur kedalaman tanah

3.1.2        Faktor Tanah
No.
Alat dan Bahan
Fungsi
1.
2.
Gelas
Air
Untuk meletakkan air
Untuk melunakkan tanah agar mudah untuk diidentifikasi






3.1.3        Faktor Biotik (Keanekaragaman Arthropoda pada Agroekosistem)
No
Alat dan Bahan
Fungsi
1.

2.

3.

4.

5.
7.
8.

9.
Swept net

Plastik ukuran 1 kg

Fial film

Gelas air mineral

Cawan petri
Detergen
Kapas

Alkohol 70 %
Untuk menangkap serangga yang ada di udara.
Untuk tempat serangga sebelum ditaruh fial film.
Untuk menyimpan hewan yang telah di tangkap menggunakan swept-net.
Untuk menjebak agar serangga yang terdapat pada permukaan tanah.
Tempat serangga saat identifikasi.
Untuk menjebak serangga.
Untuk menyerap alkohol dan diletakkan dalam fial film.
Untuk membius serangga.

3.2     Langkah Kerja dilapang
3.2.1     Analisis Vegetasi dan Faktor Abiotik
Melakukan pengamatan secara cepat, tempat manakah yang baik.
untuk melakukan penelitian analisis vegetasi. Membuat kotak pengamatan dengan luasan 5x5 m2, lalu kotak pengamatan itu dibagi menjadi 2 bagian dengan luasan 2,5m2 kemudian dibagi menjadi beberapa plot lagi.




3.2.2     Faktor Abiotik (Tanah)
Melubangi tanah dengan menggunakan penggaris sedalam 30 cm.
Kemudian mengambil termometer. Termometer tersebut diikat dengan menggunakan tali atau benang.
Ukur suhu dengan cara memasukkan ke dalam tanah tanpa menyentuh permukaan tanah.
Perhatikan perubahan angka pada termometer, hingga angka tersebut tidak bertambah atau berkurang lagi. Catat perolehan angka terakhi, dan itulah suhu yang ada dalam tanah tersebut.
 








3.2.3     Faktor Biotik (Keragaman Arthropoda pada Agroekosistem)
Memasang pitfall traps pada masing-masing plot
Menangkap serangga dengan swept net dengan metode ayunan ganda
Mengambil serangga yang terperangkap dalan Pitfall Traps
Menuangkan alkohol 70% ke dalam kapas lalu dimasukkan ke dalam pial film dan plastik
Masukkan serangga dari pitfall ke dalam pial film dan masukkan serangga dari swept net ke plastik
 











IV.           HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1     Perhitungan dan Tabel Pengamatan
4.1.1    Analisis Vegetasi dan Faktor Abiotik (suhu udara, radiasi maatahari)
Analisis vegetasi adalah masyarakat tumbuhan yang hidup di dalam suatu tempat dalam suatu ekosistem. Masyarakat tumbuhan (komunitas) adalah kumpulan populasi yang menempati suatu habitat vegetasi yang satu jenis komunitas disebut konsosiasi, sedangkan bermacam-macam jenis disebut asosiasi.
Lokasi                  : Cangar Semusim
Luas plot              : 5x5 m2
a.    Tabel pengamatan Analisis Vegetasi
Spesies
∑
Spesies
D1
D2
Petak contoh
1
2
3
4
5
Gandum
5
36
25.5
1150
451
360
140
140
Gulma
5
10
7
70
20
35
20
15

b.   Tabel Pengamatan Suhu Udara dan Radiasi Matahari
Lokasi
Suhu
RH
Cangar
31.4 0C
45%




Lokasi                  : Jatikerto
Luas plot              : 5x5 m2
a.    Tabel pengamatan Analisis Vegetasi
Spesies
D1
(cm)
D2
(cm)
Petak contoh
1
2
3
4
5
Rumput Teki
39
30
90
49
10
2
0
Rumput Gajah Lokal
23
21
101
42
33
3
36
Rumput Gajah Africa
109
35
1
0
2
0
1

b.   Tabel pengamatan Suhu Udara dan Radiasi Matahari
Lokasi
Suhu
RH %
Jatikerto
31,80c
79%

Lokasi                  : Sumber sari
Luas plot              : 5x5 m2
a.       Tabel pengamatan Analisis Vegetasi
No
Spesies
D1
(cm)
D2
(cm)
Petak contoh ke
1
2
3
4
5
1
Jagung
216
9
276
126
39
27
36

Lokasi
Suhu
RH %
Sumber sari
29.40 c
63%



















FORM PENGAMATAN POS BUDIDAYA PERTANIAN
v  Lokasi             : Kebun Percobaan Cangar (Tanaman Musiman)
Luas plot         : 5 x 5 m2 = 25 m²
a.       Tabel Perhitungan SDR
No.
Spesies
Kerapatan
Frekuensi
Dominansi
LBA
IV
(%)
SDR
(%)
Mutlak
Nisbi (%)
Mutlak
Nisbi (%)
Mutlak
Nisbi (%)
1.
Gandum
448,2
93,33
1
50
5,84
92,99
146.17

144,25%
78,77%
2.
Rumput
32
6,66
1
50
0,44
7
11,14
63,66%
21,22%

Total
480,2
99,99
2
100
6,28
99,99
157.31
207,91
99,99

b.      Uraian perhitungan SDR
Kerapatan Mutlak
·            Gandum      =    =  448,2
·            gulma          =   =  32   

∑ KM = 448,2 + 32 = 480,2

Kerapatan Nisbi
·   Gandum          =  × 100 %  =  93.33 %
·   gulma              =  × 100 %  =  6.66  %


Frekuensi Mutlak
·   Gandum          =      = 1
·   Gulma             =      = 1     

∑ FM = 1 +  1 =  2

Frekuensi Nisbi
·   Gandum                      =   × 100 %= 50 % 
·   Gulma                         =   × 100 %= 50 % 

Luas Basal Area (LBA)         
·   Gandum          =     x     =  146.17
·   Gulma             =         x      = 11.14                
           
Dominasi Mutlak (DM)
·   Gandum          =    = 5,84
·   Gulma             =    = 0,44

∑ DM           = 5,84 + 0,44 = 6,28

Dominasi Nisbi (DN)
·   Gandum          =   × 100 %=  92,99 %
·   Gulma             =  × 100 %= 7 %


Importance Value (IV)
·            Gandum                  = 93,33+ 50 + 92,99=  236,32
·            Gulma                     = 6,66 + 50 + 7 =  63,66
                                                                                                   
Summed Dominance Ration (SDR) 
·            Gandum                  =   = 78,77
·            Gulma                     =   = 21,22

Interpretasi data tabel (Cangar)
A.    Gandum
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun percobaan Cangar didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi Gandum di dalam plot yang berukuran 5x5 m2 sebesar 1 dengan kerapatan nisbi sebesar 93,33%. Sedangkan besar frekuensi mutlaknya adalah 448,2 dan frekuensi nisbinya sebesar 50%. Nilai dominansi mutlak Gandum dalam plot sebesar 5,84 dengan persentase dominansi nisbi sebesar 92,99%.
Diketahui Gandum memiliki d1 sebesar 36 cm dan d2 sebesar 25,5 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA) sebesar 146,17 m. Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah antara KN, FN, dan DN sehingga didapatkan persentase IV gandum sebesar 236,32%, dan nilai IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies gandum sebesar 78,77%.
B.     Gulma
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun percobaan Cangar didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi Gulman di dalam plot yang berukuran 5x5 m2 sebesar 32 dengan kerapatan nisbi sebesar 6,66% sedangkan besar frekuensi mutlaknya adalah 1 dan frekuensi nisbinya sebesar 50%. Nilai dominansi mutlak gulma dalam plot sebesar 5,84 dengan persentase dominansi nisbi sebesar 7%.
Diketahui gulma memiliki d1 sebesar 10 cm dan d2 sebesar 7 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA) sebesar 11,14 m. Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah antara KN, FN, dan DN sehingga didapatkan persentase IV gulma sebesar 63,66%, dan nilai IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies gulma sebesar 21,22%

v  Lokasi                         : Jatikerto Semusim
Luas plot                     : 5x5 m2 = 25 m²

a.       Tabel perhitungan SDR
No.
Spesies
Kerapatan
Frekuensi
LBA (m)
Dominansi
IV (%)
SDR (%)
Mutlak
Nisbi (%)
Mutlak
Nisbi (%)
Mutlak
Nisbi (%)
1.
Rumput Teki
30,2
21,8%
0.8
33,33%
186,3
7,45
213,95%
269,08%
89,69%
2.
Rumput Gajah Lokal
107,5
77,62%
1
41,67%
76,91
3,08
8,84%
128,13%
42,71%
3.
Rumput Gajah Afrika
0,8
0,57%
0,6
25%
607,48
24,29
69,75%
95,32%
31,77%
Jumlah
138,5
99,99%
2,4
100%
870,69
34,82
294,49%
492,53%
164,17%













b.      Uraian perhitungan SDR =
Kerapatan Mutlak (KM)
·            Rumput Teki               =   =  = 30,2

·            Rumput Gajah Lokal  =   = = 107,5
·            Rumput Gajah Afrika =   = = 0,8

∑ KM                          = 30,2 + 107,5 +0,8 = 138,5

Kerapatan Nisbi(KN)
·            Rumput Teki               =      × 100%      = 21,8%
·            Rumput Gajah Lokal  = × 100%           = 77,62 %
·            Rumput Gajah Afrika = x 100%           = 0,57%

Frekuensi Mutlak (FM)
·            Rumput Teki               =    = 0,8
·            Rumput Gajah Lokal  =   = 1
·            Rumput Gajah Afrika = = 0,6

∑ FM                           = 0,8 + 1 + 0,6 = 2,4

Frekuensi Nisbi (FN)
·            Rumput Teki               =   × 100%      = 33,33%
·            Rumput gajah Lokal   =    × 100%      = 41,67%
·            Rumput Gajah Afrika =   × 100%      = 25%

Luas Basal Area (LBA)
·            Rumput Teki               =     x       = 186,3       
·            Rumput Gajah Lokal  =    x    = 76,91
·            Rumput Gajah Afrika = x  = 607,48
           
Dominasi Mutlak (DM)
·   Rumput Teki               =  = 7,45
·   Rumput Gajah Lokal  =   = 3,08
·   Rumput Gajah Afrika = = 24,29

∑ DM  = 7,45 + 3,08 + 24,29 = 34,82

Dominansi Nisbi (DN)
·   Rumput Teki               =  × 100 %= 213,95 %
·   Rumput Gajah Lokal  =  × 100 %= 8,84 %
·   Rumput Gajah Afrika = x 100% = 69,75 %

Importance Value (IV)
·            Rumput Teki                       = 21,8% + 33,33% + 213,95% = 269,08%

·            Rumput Gajah Lokal          = 77,62% + 41,67% + 8,84% = 128,13%

·            Rumput Gajah Afrika         = 0,57% + 25% + 69,75% = 95,32%

                                                                                                   
Summed Dominance Ration (SDR) 
·      Rumput Teki              =  = 89,69%
·     Rumput Gajah Lokal =  = 42,71%
·     Rumput Gajah Afrika            =  = 31,77%

Interpretasi data tabel (jatikerto)

A.    Rumput Teki
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun percobaan jatikerto didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi rumput teki di dalam plot yang berukuran 5x5 2m sebesar 30,2 dengan kerapatan nisbi sebesar 21,8% sedangkan besar frekuensi mutlaknya adalah 0,8 dan frekuensi nisbinya sebesar 33,33%. Nilai dominansi mutlak rumput teki dalam plot sebesar 7,45 dengan persentase dominansi nisbi sebesar 213,9%.
Diketahui putri malu memiliki d1 sebesar 39 cm dan d2 sebesar 30 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA) sebesar 186,3 m. Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah antara KN, FN, dan DN sehingga didapatkan persentase IV putri malu sebesar 269,08%, dan nilai IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies putri malu sebesar 89,69%

B.     Rumput Gajah Lokal
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun percobaan jatikerto didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi rumput gajah lokal di dalam plot yang berukuran 5x5 m2 sebesar 107,5 dengan kerapatan nisbi sebesar 77,62% sedangkan besar frekuensi mutlaknya adalah 1 dan frekuensi nisbinya sebesar 41,67%. Nilai dominansi mutlak rumput gajah lokal dalam plot sebesar 3,08 dengan persentase dominansi nisbi sebesar 8,84%.
Diketahui rumput gajah lokal memiliki d1 sebesar 23 cm dan d2 sebesar 21 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA) sebesar 76,91 m. Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah antara KN, FN, dan DN sehingga didapatkan persentase IV rumput gajah lokal sebesar 128,13%, dan nilai IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies rumput gajah lokal sebesar 42,71%

C.     Rumput Gajah Afrika
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun percobaan jatikerto didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi rumput gajah afrika di dalam plot yang berukuran 5x5 m2 sebesar 0,8 dengan kerapatan nisbi sebesar 0,57% sedangkan besar frekuensi mutlaknya adalah 0,6 dan frekuensi nisbinya sebesar 25%. Nilai dominansi mutlak ilalang dalam plot sebesar 24,29 dengan persentase dominansi nisbi sebesar 69,75%.
Diketahui rumput gajah afrika memiliki d1 sebesar 109 cm dan d2 sebesar 35 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA) sebesar 607,48. Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah antara KN, FN, dan DN sehingga didapatkan persentase IV ilalang sebesar 95,32%, dan nilai IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies ilalang sebesar 31,27%










v  Lokasi                         : Sumber Sari musiman
Luas plot                     : 5x5 m2 = 25 m²
c.       TabelPerhitungan SDR
No.
Spesies
Kerapatan
Frekuensi
Dominansi
LBA
IV
(%)
SDR
(%)
Mutlak
Nisbi (%)
Mutlak
Nisbi (%)
Mutlak
Nisbi (%)
1.
Jagung
0,2
100%
1
100%
61,8
100%
309

300%
100%

Total
0,2
100%
1
100%
61,8
100%
309
300%
100%

d.      Uraian perhitungan SDR
Kerapatan Mutlak (KM)
·         Jagung = 504  = 100,8
     5
Kerapatan Nisbi (KN)
·         Jagung = 100,8 x 100% = 100
   100,8
Frekuensi Mutlak (FM)
·         Jagung = 5   = 1
    5
Frekuensi Nisbi (FN)
·         Jagung = 1   x 100% = 100
   1
Luas Basal Area (LBA)
·         Jagung =  216 x 9   x 2   = 1944  x 2     = 486 x 0,63 = 309,55
4          Ï€          4      3,14
Dominansi Mutlak (DM)
·         Jagung = 309,55 = 12,38
     25
Dominansi Nisbi (DN)
·         Jagung = 12,38  x 100% = 100
    12,38
Nilai Penting( Importance Value = IV)
·         Jagung =  KN + FN + DN
=  100 + 100 + 100
=  300
Summed Dominance Ratio (SDR)
·         Jagung = IV   = 300   = 100
    3          3
Interpretasi data tabel (Malang )
A.    Jagung
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun percobaan Malang didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi jagung di dalam plot yang berukuran 5x5 m2 sebesar 1 dengan kerapatan nisbi sebesar 100%. Sedangkan besar frekuensi mutlaknya adalah 1 dan frekuensi nisbinya sebesar 100%. Nilai dominansi mutlak Jagung dalam plot sebesar 12,38 dengan persentase dominansi nisbi sebesar 100%.
Diketahui Jagung memiliki d1 sebesar 216 cm dan d2 sebesar 9 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA) sebesar 309,55 m. Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah antara KN, FN, dan DN sehingga didapatkan persentase IV Jagung sebesar 300%, dan nilai IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies jagung sebesar 100%.

4.1.2    Faktor Abiotik (Tanah)
Pada kelompok praktikum Minggu, 4 November 2012 Jam 06.00 WIB tidak melakukan pengamatan biomassa pohon, kerapatan dan struktur kanopi, tabal seresah karena kelompok kita baik Cangar maupun Jatikerto mendapatkan pengamatan tanaman semusim sehingga tidak ada data yang bisa dijelaskan.

4.1.3        Faktor Biotik (Keanekaragaman Arthoropoda dan Agroekosistem)
Nama Lokasi                           : Canggar
Jenis Penggunaan Lahan         : Tanaman
Tanggal/Bulan/Tahun              : 4 November 2012
Ukuran Plot                             : 5x5 m2
NO
Gambar
Klasifikasi
Bioekologi (Daur/siklus hidup, Peran, Habitat, dan Perilaku
1.
Walang sangit
Kingdom: Animalia
Filum  Arthropoda
Kelas: Insekta
Ordo : Hemiptera
a.Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
b. Peran:
1.      Sebagai organisme ekosistem sawah/perkebunan
2.      Sebagai konsumen 1dalam rantai makanan
3.      Sebagai serangga hama Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
c. Habitat:
Dedaunan, semak
d.Ciri-Ciri:
1.      Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.      Memiliki 3 pasang kaki
3.      Memiliki 2 anthena
4.      Pertahanan tubuh, dapat mengeluarkan bau menyengat apabila terancam
5.      Memiliki 2 sayap membrane
2
Sejenis dengan wereng
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Ordo : Homoptera
 Kelas : Insekta
a.Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
b. Peran:
1.      Sebagai organisme ekosistem sawah
2.      Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.      Sebagai serangga hama
4.      Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
c. Habitat:
Dedaunan, semak, kotoran hewan, tanah lembab
d. Ciri-ciri:
1.      Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.      Memiliki 3 pasang kaki
3.      Memiliki 2 anthena
4.      Memiliki 2 sayap membrane


3.





Belalang daun
Kingdom: Animalia
Filum  Arthropoda
Kelas: Insekta
Ordo : Orthoptera
a.Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
b. Peran:
1.      Sebagai organisme ekosistem sawah
2.      Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.      Sebagai serangga hama
4.      Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
5.      Sebagai barometer lingkungan
c. Habitat:
Dedaunan, semak
d. Ciri-ciri:
1.      Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.      Memiliki 3 pasang kaki, kaki paling belakang sebagai pendorong (meloncat)
3.      Memiliki 2 anthena
4.      Memiliki sepasang sayap membrane luar dan sepasang sayap membrane dalam
4.

Jangkrik

Kingdom: Animalia
Filum   : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Orthoptera
a. Siklus hidup: Telur -Nimfa I - Nimfa II - Imago
b. Peran:
1.      Sebagai organisme ekosistem sawah
2.      Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.      Sebagai serangga hama
4.      Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
5.      Sebagai barometer lingkungan
c.Habitat:
Dedaunan, semak
d. Ciri-ciri:
1.      Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.      Memiliki 3 pasang kaki, kaki paling belakang sebagai pendorong (meloncat)
3.      Memiliki 2 anthena
4.      Memiliki sepasang sayap membrane luar dan sepasang sayap membrane dalam.
5.
Lalat Sawah
Kingdom :  Animalia
Filum :  Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo :  Hymenoptera
a.Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II - Imago
b. Peran:
1.      Sebagai organisme ekosistem sawah
2.      Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.        Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
c.Habitat:
Dedaunan, semak
d. Ciri-ciri:
1.   Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.   Memiliki 3 pasang kaki
3.   Memiliki 2 anthena
4.     Memiliki sepasang sayap membrane sebagai hilter
6.
Semut bersayap
Kingdom :  Animalia
Filum :  Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo :  Isoptera
a. Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II - Pekerja / prajurit / nimfa fertil
b. Peran:
1.      Sebagai organisme ekosistem sawah
2.      Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.   Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
4.     Sebagai barometer lingkungan
c. Habitat: 
Dedaunan, semak, Tanah
d. Peran:
1.         Sebagai organisme ekosistem sawah
2.         Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.       Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
4.       Sebagai barometer lingkungan
7.

laba-Laba

Kingdom :  Animalia
Filum :  Arthropoda
Kelas : Arachidae
Ordo :  Arachinodeae
a.Siklus hidup:
Telur - Laba-laba - Laba-laba dewasa
b. Peran:
1.         Sebagai organisme ekosistem sawah
2.         Sebagai konsumen 1/2 dalam rantai makanan
3.         Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
4.        Sebagai barometer lingkungan
5.         Dapat menyebabkan kerugian secara fisik, apabila tergigit (racun).
c. Habitat:
Dedaunan, semak, Tanah, Ranting
d. Ciri-ciri:
1.         Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.         Memiliki 4 pasang kaki
3.         Memiliki Racun
4.      Tidak memiliki sayap
Nama Lokasi                           : Jatikerto
Jenis Penggunaan Lahan         : Tanaman Musiman
Tanggal/Bulan/Tahun              : 4 November 2012
Ukuran Plot                             : 5x5 m2
NO
Gambar
Klasifikasi
Bioekologi (Daur/siklus hidup, Peran, Habitat, dan Perilaku)
1
Belalang
Kingdom: Animalia
Filum: Artropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Orthoptera
a. Siklus Hidup:
Telur-larva-imago
b. Peran :
1. Sebagai predator
2. Perusak bahan simpanan
3. Perusak tanaman
c.Habitat:
terdapat di pohon.
d.Ciri-ciri:
1. Antena pendek
2. Ovipositor pendek
3. Ukuran tubuh betina lebih besar di banding jantan
4. Mempunyai alat suara (tympana) yang terletak di ruas abdomen pertama
2.
Semut Hitam Besar
Kingdom : animalia
Filum : artropoda
Kelas : insecta
Ordo : hymenoptera
a. Siklus Hidup:
Telur- telur telah dibuahi, semut yang ditetaskan betina (diploid), jantan (haploid)-metamorfosa yang lengkap, melewati tahap larva dan pupa (dengan pupa yang exarate) - dewasa.
b. Peran:
1. Sebagai hama
2. Predator
c. Habitat : Pasir
d. Ciri-ciri:
1. Di bagian dada semut terdapat tiga pasang kaki
2. Di ujung setiap kakinya terdapat semacam cakar kecil yang membantunya memanjat dan berpijak pada permukaan
3. Terdapat sepasang antena
3.
Laba-laba
Kingdom : animalia
Filum : arthropoda
Kelas : insekta
Ordo: araneae
a. Siklus Hidup:
Telur-nimfa-imago
b. Peran : hama
c. Habitat :
terdapat di dedaunan.
d.Ciri-ciri:
1. Badan oval memanjang, kuat, dan tegap
2. Ukuran tubuh sedang
3. Berwarna merah/ coklat/ hitam
4.Femur kaki depan tidak menebal
5. Terdapat antena 4 ruas.

Nama Lokasi                           : Sumber sari
Jenis Penggunaan Lahan         : Tanaman Musiman
Tanggal/Bulan/Tahun              : 4 November 2012
Ukuran Plot                             : 5x5 m2
NO
Gambar
Klasifikasi
Bioekologi (Daur/siklus hidup, Peran, Habitat, dan Perilaku)
1
Belalang
Kingdom: Animalia
Filum: Artropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Orthoptera
a. Siklus Hidup:
Telur-nimfaI-nimfaII-imago
b. Peran :
1.SebagaiOrganisme    Ekosistem Sawah /kebun
2. Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3. Sebagai serangga Hama
4. Sebagai Barometer keseimbangan ekosistem

c.Habitat:
dedaunan,semak
d.Ciri-ciri:
1.      Tubuh terdiri dari Kepala, dada, perut
2.      Memiliki 3 Pasang kaki
3.      Memiliki 2 anthena
4.      Memiliki sayap ganda (luar dan dalam)
5.      Fungsi kaki belakang sebagai pendorong
    (jumping)

2.

Kingdom: Animalia
Filum  Arthropoda
Kelas: Insekta
Ordo : Hemiptera
a.Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
b. Peran:
4.      Sebagai organisme ekosistem sawah/perkebunan
5.      Sebagai konsumen 1dalam rantai makanan
6.      Sebagai serangga hama Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
c. Habitat:
Dedaunan, semak
d.Ciri-Ciri:
1.      Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.      Memiliki 3 pasang kaki
3.      Memiliki 2 anthena
4.      Pertahanan tubuh, dapat mengeluarkan bau menyengat apabila terancam

3.

Kingdom         : Animalia
Sub Kingdom  : Invertebrata
Filum               : Arthopoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Diptera

a. Siklus Hidup:
embrio è larva I èlarva II èlarva III èprepupa
 Ã¨pupa è imago
b. Peran : hama
c. Habitat :
terdapat di dedaunan.
d.Ciri-ciri:
  1. 1. Lalat buah mempunyai tubuh yang berbuku-buku
  2. Alat mulut tipe lalat buah dewasa bertipe penjilat-penyerap
  3. Sayapnya sendiri transparan



4.2    Pembahasan
4.2.1        Analisis Vegetasi dan Faktor Abiotik
Dari hasil praktikum lapang Ekologi Pertanian yang dilakukan di Cangar, kami mengamati vegetasi tanaman gandum.Secara kasat mata ditemukan juga tanaman lain yaitu gulma. Dengan perbandingan SDR 78,77% : 21,22% antara gandum dan gulma membuktikan bahwa ada faktor dari vegetasi  gulma yang menghambat pertumbuhan dari gandum.
Dari hasil praktikum lapang Ekologi Pertanian yang dilakukan di Jatikerto, kami mengamati vegetasi tanaman singkong. Secara kasat mata ditemukan tanaman lain yaitu rumput teki, rumput gajah lokal dan rumput gajah afrika. Dengan perbandingan SDR 89,69% : 42,71% : 31,77% antara rumput teki dengan rumput gajah lokal dengan rumputgajah afrika membuktikan bahwa ada faktor dari vegetasi gulma yang menghambat singkong.
Dari hasil praktikum lapang Ekologi Pertanian yang dilakukan di Malang, kami mengamati vegetasi tanaman yaitu jagung. Secara kasat mata tidak ditemukan tanaman lain selain jagung. Diperkuat dengan jumlah  SDR  jagung sebesar 100%. Tidak ada faktor dari tanaman lain yang mempengaruhi pertumbuhan jagung tersebut.



4.2.2        Faktor Abiotik (Tanah)
Dari hasil praktikum lapang Ekologi Pertanian yang dilakukan di Malang, Jatikerto dan Canggar tanaman musiman, kami tidak mengamati biomasa, seresah. Kami hanya mengamati warna tanah, suhu tanah, dan hewan yang dijumpai. Setelah itu dimasukkan dalam tabel data pengamatan yang telah disediakan

4.2.3        Faktor Biotik (Keragaman Arthropoda pada Agroekosistem)
Dari hasil praktikum lapang Ekologi Pertanian yang di Malang, Jatikerto, dan Canggar. Kami menemukan  berbagai macam spesies, seperti Laba-Laba, Belalang, Semut Hitam, Walang sangit, Belalang daun, Jangkrik dan lain-lain.

a.    Jangkrik

A.      Klasifikasi Jangkrik
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insekta
Ordo: Orthoptera
B.  Bioekologi Jangkrik
Siklus Hidup
Nimfa I - Nimfa II – Imago
Peran:
1.    Sebagai organisme ekosistem sawah
2.    Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.    Sebagai serangga hama
4.    Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
5.    Sebagai barometer lingkungan
Habitat: Dedaunan, semak
Ciri-ciri:
1.    Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.    Memiliki 3 pasang kaki, kaki paling belakang sebagai pendorong (meloncat)
3.    Memiliki 2 antena
4.    Memiliki sepasang sayap membrane luar dan sepasang sayap membran dalam.
b.    Belalang
A.  Klasifikasi Belalang
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insekta
Ordo: Orthoptera
B.  Bioekologi Belalang
Siklus Hidup: Telur-larva-imago
Peran:
1.    Sebagai predator
2.    Perusak bahan simpanan
3.    Perusak tanaman
Habitat : terdapat di pohon.
Ciri-ciri:
1.    Antenna pendek
2.    Ovipositor pendek
3.    Ukuran tubuh betina lebih besar di banding jantan
4.    Mempunyai alat suara (tympana) yang terletak di ruas abdomen pertama
c.    Laba-Laba
A.   Klasifikasi Laba-laba
Kingdom: Animalia
Filum:          Arthropoda
Kelas:          Arachnida
Ordo:          Araneae
B. Bioekologi laba-laba.
Siklus Hidup: Telur-nimfa-imago
Peran: hama
Habitat: terdapat di dedaunan.
Ciri-ciri:
1.      Badan oval memanjang, kuat, dan tegap
2.      Ukuran tubuh sedang
3.      Berwarna merah/coklat/hitam
4.      Femur kaki depan tidak menebal

d.      Semut Hitam Besar
A.     Klasifikasi Ilmiah
Kingdom: animalia
Filum: Artropoda
Kelas: Insekta
Ordo: Hymenoptera
B.       Bioekologi Semut Hitam Besar
Siklus Hidup: Telur- telur telah dibuahi, semut yang ditetaskan betina (diploid), jantan (haploid)-metamorfosa yang lengkap, melewati tahap larva dan pupa (dengan pupa yang exarate) - dewasa.
Peran:
1.    Sebagai hama
2.    Predator
Habitat : Pasir
Ciri-ciri:
1.    Di bagian dada semut terdapat tiga pasang kaki
2.    Di ujung setiap kakinya terdapat semacam cakar kecil yang membantunya memanjat dan berpijak pada permukaan
3.    Terdapat sepasang antenna

e. Walang sangit
A.      Klasifikasi Walang sangit
Kingdom: Animalia
Filum  Arthropoda
Ordo : Hemiptera
Kelas: Insekta
B.       Bioekologi Walang sangit
Siklus hidup: Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
Peran:
1.    Sebagai organisme ekosistem sawah/perkebunan
2.    Sebagai konsumen 1dalam rantai makanan
3.    Sebagai serangga hama Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
Habitat: Dedaunan, semak
Ciri-Ciri:
1.    Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.    Memiliki 3 pasang kaki
3.    Memiliki 2 antena
4.    Pertahanan tubuh, dapat mengeluarkan bau menyengat apabila terancam
5.    Memiliki 2 sayap membrane
f. Sejenis dengan wereng
   
A.   Klasifikasi Sejenis dengan wereng
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Ordo: Homoptera
Kelas : Insekta
B.    Bioekologi Sejenis dengan wereng
Siklus hidup: Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
Peran:
1.    Sebagai organisme ekosistem sawah
2.    Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.    Sebagai serangga hama
4.    Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
Habitat: Dedaunan, semak, kotoran hewan, tanah lembab
Ciri-ciri:
1.    Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.    Memiliki 3 pasang kaki
3.    Memiliki 2 anthena
4.    Memiliki 2 sayap membrane

g. Belalang Daun
   
A. Klasifikasi Belalang daun
 Kingdom: Animalia
 Filum  Arthropoda
 Kelas: Insekta
 Ordo: Orthoptera
B.  Belalang Daun
  Siklus hidup: Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
  Peran:
1.    Sebagai organisme ekosistem sawah
2.    Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.    Sebagai serangga hama
4.    Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
5.    Sebagai barometer lingkungan
Habitat: Dedaunan, semak
Ciri-ciri:
1.    Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut
2.    Memiliki 3 pasang kaki, kaki paling belakang sebagai pendorong (meloncat)
3.    Memiliki 2 antena
4.    Memiliki sepasang sayap membrane luar dan sepasang sayap membran dalam

h. Semut Bersayap
A.      Klasifikasi Semut Bersayap
Filum :  Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo :  Hymenoptera



B.       Bioekologi Semut Bersayap
Siklus hidup: Telur - Nimfa I - Nimfa II - Pekerja / prajurit / nimfa fertil
Peran:
1.      Sebagai organisme ekosistem sawah
2.      Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.      Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
4.      Sebagai barometer lingkungan
Habitat:  Dedaunan, semak, Tanah
Peran:
1.    Sebagai organisme ekosistem sawah
2.    Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.    Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
4.    Sebagai barometer lingkungan

i.  Lalat Sawah

                                   
A.    Klasifikasi Lalat Sawah
Kingdom:  Animalia
Filum:  Arthropoda
Kelas: Insekta
Ordo:  Hymenoptera

B.       Bioekologi Lalat Sawah
Siklus hidup: Telur - Nimfa I - Nimfa II - Imago
Peran:
1.        Sebagai organisme ekosistem sawah
2.        Sebagai konsumen 1 dalam rantai makanan
3.        Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
Habitat: Dedaunan, semak
Ciri-ciri:
1.    Tubuh terdiri dari kepala, dada, perut.
2.    Memiliki 3 pasang kaki
3.    Memiliki 2 anthena
4.    Memiliki sepasang sayap membrane sebagai hilter











V.         PENUTUP
Kesimpulan
·      Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan.
·      Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia  yang mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan sejenis lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku.
·      Faktor abiotik yang mempengaruhi analisa vegetasi adalah suhu udara dan radiasi matahari.
·      Arthropoda terutama serangga mempunyai beberapa peran dalam ekologi, yaitu : sebagai predator, hama, dan parasitoid.
·      Dari pratikum lapang yang dilakukan oleh kelompok kita yang ada di Malang, Cangar, dan di Jatikerto terdapat perbedaan Vegetasi dan Arthopoda yang kita amati dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1.    Ukuran dari arthopoda
2.    Ketinggian tempat
3.    Suhu
4.    Intensitas radiasi matahari
5.    Kerapatan vegetasi







DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2012.Definisi Ekologi Pertanian.http://mukegile08.wordpress.com/2012/02/12/pengertian-dan-prinsip-ekologi/. Diakses tanggal 11 November 2012
Anonymous.2010.Definisi Analisis Vegetasi.http://vegetasi2.blogspot.com/2010/12/analisis-vegetasi.html. Diakses tanggal 11 November 2012
Borneo.2012.Definisi Arthropoda.http://pertaniant3.blogspot.com/2011/04/pengerrtian-art.Diakses  tanggal 11 November 2012
Steenis, J. van.1992.Flora. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Lilies, Cjristina.1991. Kunci Determinasi Serangga. Yogyakarta:Kanisius.