LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN
STUDI LAPANG DI
3 TEMPAT YANG BERBEDA
(JATIKERTO,
MALANG, DAN CANGAR)
Disusun Oleh:
Kelompok: 2
Kelas: H Agribisnis
Asisten : Kak Sutrisno
PROGRAM STUDI
AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2012
LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN
STUDI LAPANG DI
3 TEMPAT YANG BERBEDA
(JATIKERTO,
MALANG, DAN CANGAR)
Oleh : KELOMPOK 2
Kelas
H Agribisnis
Nama : NIM
:
Za’inatul
Khiptiyah 125040101111029
Dini
Rahma Fathi 125040101111030
Imama
Nurus Izaati 125040101111031
Harja
Gunadi 125040101111032
Anugrah
Rizki Pratama 125040101111033
Evie
Octarina 125040101111034
Melati
Natalia Lumbaobing 125040101111035
Devi
Hardianti 125040410111036
Danang
Permadhi 125040101111037
Dwi
Septiana Wulandari 125040101111038
Alby
Irsyad 125040101111039
Eka
Andriani Kartikasari 125040101111040
Tria
Rosita Maharani 125040101111041
Tara
Octavira 125040101111042
Trianita Ambarwati 125040101111043
Resty
Fauzia 125040101111044
Roida
Rima Melati 125040101111045
Linda
Hariani 125040101111046
Riski
Wulandari 125040101111047
Kartika
Alvi A K 125040101111048
Asisten
: Sutrisno
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
LEMBAR
PENGESAHAN
Mengesahkan
|
Asisten,
Sutrisno
NIM.
|
Co Asisten
Adi
Setiawan
|
||
|
|
|||
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Ekologi berasal dari bahasa Yunani
yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup,
dan logos yang berarti ilmu.Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari
baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan
lingkungannya. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan
berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik
antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor
biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan
mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi
makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling
mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber
daya hayati yang
dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan
hidupnya. Dalam
arti sempit, pertanian juga diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan sebidang lahan untuk membudidayakan jenis tanaman
tertentu, terutama yang bersifat semusim.
Jadi
Ekologi Pertanian adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara makhluk hidup,
dan hubungan antar makhluk hidup dengan lingkungan. Oleh
karena itu dalam ekologi pertanian, dipelajari studi iklim mikro yang mencakup
tentang suhu dan kelembaban tanah, pengukuran biomassa pohon, analisis
vegetasi, dan keanekaragaman arthropoda.
1.2
Rumusan
Masalah
-
Apa perbandingan di Malang, Cangar, dan Jatikerto?
-
Bagaimana kondisi lapang?
1.3
Tujuan
-
Memenuhi tugas praktikum ekologi
pertanian
-
Mengetahui analisis vegetasi dan faktor
abiotik (suhu udara, radiasi matahari) yang ada di Malang, Cangar, dan Jatikerto
-
Mengetahui keragaman arthropoda pada
agroekosistem Malang,
Cangar, dan Jatikerto
-
Mengetahui perbandingan vegetasi dan
arthropoda antara Malang,
Cangar, dan Jatikerto
1.4
Manfaat
-
Memahami
keadaan vegetasi di Malang, Cangar, dan di Jatikerto sehingga dapat
menambah wawasan dan pengetahuan terhadap sang pembaca
-
Dapat
mendeskripsikan perbandingan keadaan vegetasi di masing-masing tempat
-
Dapat
mengidentifikasi keanekaragaman artropoda di Malang, Cangar, dan di Jatikerto
-
Dapat
membandingkan keragaman arthropoda di masing-masing tempat
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Analisis
Vegetasi dan Faktor Abiotik (Suhu Udara, Radiasi Matahari)
Analisis
vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk
(struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Faktor biotik adalah
faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun
hewan. Sedangkan faktor abotik adalah salah satu komponen atau faktor dalam
lingkungan. Komponen abiotik adalah segala sesuatu yang tidak bernyawa seperti
udara, suhu, dan radiasi matahari. Faktor abiotik antara lain meliputi:
a.
Suhu
Suhu
berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan
organisme untuk hidup.Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada
kisaran suhu tertentu. Faktor yang mempengaruhi suhu
diantaranya: topografi, ketinggian suatu tempat, sudut datang sinar matahari,
lama penyinaran, luas tajuk tanaman.
b.
Radiasi Matahari
Sinar
matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar
matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai
produsen untuk berfotosintesis. Faktor yang
mempengaruhi radiasi matahari: intensitas cahaya, panjang hari, dan atmosfer.
2.2
Faktor Abiotik (Tanah)
Faktor abiotik yang mempengaruhi ekosistem adalah Tanah. Tanah
merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme
yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting
bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.
Fungsi tanah diantaranya:
1. Tempat tumbuh dan berkembangnya
perakaran
2. Penyedia kebutuhan primer tanaman
(air, udara, dan unsur-unsur hara)
3. Penyedia kebutuhan sekunder tanaman
(zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan
toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)
4. Sebagai habitat biota tanah, baik
yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam
penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang
berdampak negatif karena merupakan hama dan penyakit tanaman.
Dua pemahaman penting tentang tanah:
1. Tanah sebagai tempat tumbuh dan
penyedia kebutuhan tanaman, dan
2. Tanah juga berfungsi sebagai pelindung
tanaman dari serangan hama dan penyakit dan dampak negatif pestisida maupun
limbah industri yang berbahaya.
Klasifikasi tekstur tanah: pasir,
debu, dan liat.
Klasifikasi yang mermpengaruhi:
iklim, bahan induk, topografi, organisme, dan waktu.
2.3
Faktor
Biotik (Keanekaragaman Arthropoda dalam Agroekosistem)
Faktor biotik
adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan
maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan
berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.
Faktor biotik juga
meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi,
komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup
tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi
membentuk suatu system yang menunjukkan kesatuan.
Arthropoda berasal dari kata arthron
yang berarti ruas dan podos yang
berarti kaki. Arthropoda adalah binatang yang kakinya beruas-ruas termasuk juga
bagian perut (abdomen) dan dada (toraks) yang beruas-ruas. Contoh: nyamuk,
lalat, kecoak, kutu, udang, kaki seribu, dan lain sebagainya. Peran arthropoda
dalam kehidupan ekosistem antara lain hama, predator, parasitoid, vector dan pollinator.
Peran arthropoda dalam perombakan bahan organik untuk menjaga kesuburan tanah,
dengan kata lain menjaga siklus hara dalam ekosistem.
Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup
serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan sejenis lainnya.
Klasifikasi
Arthropoda:
|
Animalia
|
|
Invertebrata
|
|
Chordata
|
|
Vertebrata
|
|
Nematoda
|
|
Mollusca
|
|
Arthropoda
|
|
Hexapoda
(insekta)
|
|
Crustacea
|
|
Arachnida
|
|
Diplopoda
|
|
Chilopoda
|
III.
METODOLOGI
3.1
Alat, bahan beserta fungsinya
3.1.1
Analisis
Vegetasi dan Faktor Abiotik (Suhu Udara dan Radiasi Matahari)
|
No.
|
Alat dan Bahan
|
Fungsi
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Luxmeter
Termohidrometer
Termometer
Penggaris
|
Untuk megukur cahaya
Untuk mengukur suhu udara
Untuk mengukur suhu dalam tanah
Untuk mengukur kedalaman tanah
|
3.1.2
Faktor Tanah
|
No.
|
Alat dan Bahan
|
Fungsi
|
|
1.
2.
|
Gelas
Air
|
Untuk meletakkan air
Untuk melunakkan tanah agar mudah
untuk diidentifikasi
|
3.1.3
Faktor Biotik
(Keanekaragaman Arthropoda pada Agroekosistem)
|
No
|
Alat
dan Bahan
|
Fungsi
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
7.
8.
9.
|
Swept net
Plastik ukuran 1 kg
Fial film
Gelas air mineral
Cawan petri
Detergen
Kapas
Alkohol 70 %
|
Untuk menangkap serangga yang ada di
udara.
Untuk tempat serangga sebelum ditaruh
fial film.
Untuk menyimpan hewan yang telah di
tangkap menggunakan swept-net.
Untuk menjebak agar serangga yang
terdapat pada permukaan tanah.
Tempat serangga saat identifikasi.
Untuk menjebak serangga.
Untuk menyerap alkohol dan diletakkan
dalam fial film.
Untuk membius serangga.
|
3.2
Langkah Kerja dilapang
3.2.1
Analisis
Vegetasi dan Faktor Abiotik
Melakukan pengamatan secara cepat,
tempat manakah yang baik.
untuk melakukan penelitian analisis vegetasi. Membuat kotak pengamatan dengan luasan 5x5 m2, lalu kotak pengamatan itu dibagi menjadi 2 bagian dengan luasan 2,5m2 kemudian dibagi menjadi beberapa plot lagi.
untuk melakukan penelitian analisis vegetasi. Membuat kotak pengamatan dengan luasan 5x5 m2, lalu kotak pengamatan itu dibagi menjadi 2 bagian dengan luasan 2,5m2 kemudian dibagi menjadi beberapa plot lagi.
3.2.2
Faktor Abiotik
(Tanah)
|
Melubangi tanah dengan menggunakan
penggaris sedalam 30 cm.
|
|
Kemudian mengambil termometer. Termometer
tersebut diikat dengan menggunakan tali atau benang.
|
|
Ukur suhu dengan cara memasukkan ke
dalam tanah tanpa menyentuh permukaan tanah.
|
|
Perhatikan perubahan angka pada termometer,
hingga angka tersebut tidak bertambah atau berkurang lagi. Catat perolehan
angka terakhi, dan itulah suhu yang ada dalam tanah tersebut.
|
3.2.3
Faktor Biotik
(Keragaman Arthropoda pada Agroekosistem)
|
Memasang pitfall
traps pada masing-masing plot
|
|
Menangkap serangga
dengan swept net dengan metode ayunan ganda
|
|
Mengambil serangga yang
terperangkap dalan Pitfall Traps
|
|
Menuangkan alkohol 70% ke dalam
kapas lalu dimasukkan ke dalam pial film dan plastik
|
|
Masukkan serangga dari pitfall ke
dalam pial film dan masukkan serangga dari swept net ke plastik
|
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Perhitungan dan Tabel Pengamatan
4.1.1 Analisis
Vegetasi dan Faktor Abiotik (suhu udara, radiasi maatahari)
Analisis vegetasi adalah masyarakat
tumbuhan yang hidup di dalam suatu tempat dalam suatu ekosistem. Masyarakat
tumbuhan (komunitas) adalah kumpulan populasi yang menempati suatu habitat
vegetasi yang satu jenis komunitas disebut konsosiasi, sedangkan bermacam-macam
jenis disebut asosiasi.
Lokasi : Cangar Semusim
Luas plot : 5x5 m2
a. Tabel
pengamatan Analisis Vegetasi
|
Spesies
|
∑
Spesies
|
D1
|
D2
|
Petak
contoh
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||||
|
Gandum
|
5
|
36
|
25.5
|
1150
|
451
|
360
|
140
|
140
|
|
Gulma
|
5
|
10
|
7
|
70
|
20
|
35
|
20
|
15
|
b. Tabel
Pengamatan Suhu Udara dan Radiasi Matahari
|
Lokasi
|
Suhu
|
RH
|
|
Cangar
|
31.4 0C
|
45%
|
Lokasi :
Jatikerto
Luas plot : 5x5 m2
a. Tabel pengamatan Analisis Vegetasi
|
Spesies
|
D1
(cm)
|
D2
(cm)
|
Petak
contoh
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|||
|
Rumput Teki
|
39
|
30
|
90
|
49
|
10
|
2
|
0
|
|
Rumput Gajah Lokal
|
23
|
21
|
101
|
42
|
33
|
3
|
36
|
|
Rumput Gajah Africa
|
109
|
35
|
1
|
0
|
2
|
0
|
1
|
b. Tabel pengamatan Suhu Udara dan Radiasi Matahari
|
Lokasi
|
Suhu
|
RH %
|
|
Jatikerto
|
31,80c
|
79%
|
Lokasi :
Sumber sari
Luas plot :
5x5 m2
a.
Tabel pengamatan
Analisis Vegetasi
|
No
|
Spesies
|
D1
(cm)
|
D2
(cm)
|
Petak contoh ke
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||||
|
1
|
Jagung
|
216
|
9
|
276
|
126
|
39
|
27
|
36
|
|
Lokasi
|
Suhu
|
RH %
|
|
Sumber sari
|
29.40 c
|
63%
|
FORM
PENGAMATAN POS BUDIDAYA PERTANIAN
v Lokasi : Kebun Percobaan Cangar (Tanaman
Musiman)
Luas
plot : 5 x 5 m2 = 25 m²
a. Tabel
Perhitungan SDR
|
No.
|
Spesies
|
Kerapatan
|
Frekuensi
|
Dominansi
|
LBA
|
IV
(%)
|
SDR
(%)
|
|||
|
Mutlak
|
Nisbi (%)
|
Mutlak
|
Nisbi
(%)
|
Mutlak
|
Nisbi
(%)
|
|||||
|
1.
|
Gandum
|
448,2
|
93,33
|
1
|
50
|
5,84
|
92,99
|
146.17
|
144,25%
|
78,77%
|
|
2.
|
Rumput
|
32
|
6,66
|
1
|
50
|
0,44
|
7
|
11,14
|
63,66%
|
21,22%
|
|
|
Total
|
480,2
|
99,99
|
2
|
100
|
6,28
|
99,99
|
157.31
|
207,91
|
99,99
|
b.
Uraian perhitungan SDR
Kerapatan Mutlak
·
Gandum =
=
448,2
·
gulma =
=
32
∑ KM = 448,2 + 32 = 480,2
Kerapatan
Nisbi
· Gandum =
× 100 %
= 93.33 %
· gulma =
× 100 %
= 6.66 %
Frekuensi
Mutlak
· Gandum =
= 1
· Gulma =
= 1
∑ FM = 1 + 1 = 2
Frekuensi
Nisbi
· Gandum =
× 100 %= 50 %
· Gulma =
× 100 %= 50 %
Luas
Basal Area (LBA)
· Gandum =
x
=
146.17
· Gulma =
x
= 11.14
Dominasi
Mutlak (DM)
· Gandum =
= 5,84
· Gulma =
= 0,44
∑ DM = 5,84 + 0,44 = 6,28
Dominasi
Nisbi (DN)
· Gandum =
× 100 %=
92,99 %
· Gulma =
× 100 %= 7 %
Importance
Value (IV)
·
Gandum =
93,33+ 50 + 92,99= 236,32
·
Gulma =
6,66 + 50 + 7 = 63,66
Summed
Dominance Ration (SDR)
·
Gandum =
= 78,77
·
Gulma =
= 21,22
Interpretasi data tabel (Cangar)
A. Gandum
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun percobaan
Cangar didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi Gandum di dalam plot
yang berukuran 5x5 m2 sebesar 1 dengan kerapatan nisbi sebesar 93,33%. Sedangkan
besar frekuensi mutlaknya adalah 448,2 dan frekuensi nisbinya sebesar 50%.
Nilai dominansi mutlak Gandum dalam plot sebesar 5,84 dengan persentase
dominansi nisbi sebesar 92,99%.
Diketahui
Gandum memiliki d1 sebesar 36 cm dan d2 sebesar 25,5 cm didapatkan Luas Basal
Area (LBA) sebesar 146,17 m. Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan
dari jumlah antara KN, FN, dan DN sehingga didapatkan persentase IV gandum
sebesar 236,32%, dan nilai IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR
spesies gandum sebesar 78,77%.
B.
Gulma
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun percobaan
Cangar didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi Gulman di dalam plot
yang berukuran 5x5 m2 sebesar 32 dengan kerapatan nisbi sebesar 6,66%
sedangkan besar frekuensi mutlaknya adalah 1 dan frekuensi nisbinya sebesar
50%. Nilai
dominansi mutlak gulma dalam plot sebesar 5,84 dengan persentase
dominansi nisbi sebesar 7%.
Diketahui
gulma memiliki d1 sebesar 10 cm dan d2 sebesar 7 cm didapatkan Luas Basal Area
(LBA) sebesar 11,14 m. Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari
jumlah antara KN, FN, dan DN sehingga didapatkan persentase IV gulma sebesar
63,66%, dan nilai IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR
spesies gulma sebesar 21,22%
v Lokasi :
Jatikerto Semusim
Luas
plot :
5x5 m2 = 25 m²
a.
Tabel
perhitungan SDR
|
No.
|
Spesies
|
Kerapatan
|
Frekuensi
|
LBA (m)
|
Dominansi
|
IV (%)
|
SDR (%)
|
||||
|
Mutlak
|
Nisbi (%)
|
Mutlak
|
Nisbi (%)
|
Mutlak
|
Nisbi (%)
|
||||||
|
1.
|
Rumput
Teki
|
30,2
|
21,8%
|
0.8
|
33,33%
|
186,3
|
7,45
|
213,95%
|
269,08%
|
89,69%
|
|
|
2.
|
Rumput
Gajah Lokal
|
107,5
|
77,62%
|
1
|
41,67%
|
76,91
|
3,08
|
8,84%
|
128,13%
|
42,71%
|
|
|
3.
|
Rumput
Gajah Afrika
|
0,8
|
0,57%
|
0,6
|
25%
|
607,48
|
24,29
|
69,75%
|
95,32%
|
31,77%
|
|
|
Jumlah
|
138,5
|
99,99%
|
2,4
|
100%
|
870,69
|
34,82
|
294,49%
|
492,53%
|
164,17%
|
||
b. Uraian
perhitungan SDR =
Kerapatan
Mutlak (KM)
·
Rumput Teki =
=
= 30,2
·
Rumput Gajah Lokal =
=
= 107,5
·
Rumput
Gajah Afrika =
=
= 0,8
∑ KM =
30,2 + 107,5 +0,8 = 138,5
Kerapatan Nisbi(KN)
·
Rumput Teki =
× 100% =
21,8%
·
Rumput Gajah Lokal =
× 100% = 77,62 %
·
Rumput Gajah Afrika =
x 100% = 0,57%
Frekuensi
Mutlak (FM)
·
Rumput
Teki =
= 0,8
·
Rumput Gajah Lokal =
= 1
·
Rumput Gajah Afrika =
= 0,6
∑ FM = 0,8 + 1 + 0,6 = 2,4
Frekuensi
Nisbi (FN)
·
Rumput Teki =
× 100%
= 33,33%
·
Rumput gajah Lokal =
× 100%
= 41,67%
·
Rumput Gajah Afrika =
× 100%
= 25%
Luas Basal Area (LBA)
·
Rumput
Teki =
x
= 186,3
·
Rumput
Gajah
Lokal =
x
= 76,91
·
Rumput Gajah Afrika =
x
= 607,48
Dominasi
Mutlak (DM)
· Rumput
Teki =
= 7,45
· Rumput
Gajah Lokal =
= 3,08
· Rumput Gajah Afrika =
= 24,29
∑ DM =
7,45 + 3,08 + 24,29 = 34,82
Dominansi Nisbi (DN)
· Rumput
Teki =
× 100 %= 213,95 %
· Rumput
Gajah Lokal =
× 100 %= 8,84 %
· Rumput
Gajah Afrika =
x
100% = 69,75 %
Importance
Value (IV)
·
Rumput Teki = 21,8% + 33,33% + 213,95% = 269,08%
·
Rumput Gajah Lokal = 77,62% + 41,67% + 8,84% = 128,13%
·
Rumput Gajah Afrika = 0,57% + 25% + 69,75% = 95,32%
Summed
Dominance Ration (SDR)
· Rumput
Teki =
= 89,69%
· Rumput
Gajah Lokal =
= 42,71%
· Rumput
Gajah Afrika =
= 31,77%
Interpretasi data tabel (jatikerto)
A.
Rumput Teki
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun
percobaan jatikerto didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi rumput teki
di dalam plot yang berukuran 5x5 2m sebesar 30,2 dengan kerapatan
nisbi sebesar 21,8% sedangkan besar frekuensi mutlaknya adalah 0,8 dan
frekuensi nisbinya sebesar 33,33%. Nilai dominansi mutlak rumput teki dalam
plot sebesar 7,45 dengan persentase dominansi nisbi sebesar 213,9%.
Diketahui putri malu memiliki d1 sebesar 39 cm dan
d2 sebesar 30 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA) sebesar 186,3 m. Besar Nilai
Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah antara KN, FN, dan DN sehingga
didapatkan persentase IV putri malu sebesar 269,08%, dan nilai IV dibagi tiga
dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies putri malu sebesar 89,69%
B.
Rumput Gajah Lokal
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun
percobaan jatikerto didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi rumput
gajah lokal di dalam plot yang berukuran 5x5 m2 sebesar 107,5
dengan kerapatan nisbi sebesar 77,62% sedangkan besar frekuensi mutlaknya
adalah 1 dan frekuensi nisbinya sebesar 41,67%. Nilai dominansi mutlak rumput
gajah lokal dalam plot sebesar 3,08 dengan persentase dominansi nisbi sebesar 8,84%.
Diketahui rumput gajah lokal memiliki d1 sebesar 23
cm dan d2 sebesar 21 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA) sebesar 76,91 m. Besar
Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah antara KN, FN, dan DN
sehingga didapatkan persentase IV rumput gajah lokal sebesar 128,13%, dan nilai
IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies rumput gajah
lokal sebesar 42,71%
C.
Rumput Gajah Afrika
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun
percobaan jatikerto didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi rumput
gajah afrika di dalam plot yang berukuran 5x5 m2 sebesar 0,8 dengan
kerapatan nisbi sebesar 0,57% sedangkan besar frekuensi mutlaknya adalah 0,6
dan frekuensi nisbinya sebesar 25%. Nilai dominansi mutlak ilalang dalam plot
sebesar 24,29 dengan persentase dominansi nisbi sebesar 69,75%.
Diketahui rumput gajah afrika memiliki d1 sebesar
109 cm dan d2 sebesar 35 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA) sebesar 607,48.
Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah antara KN, FN, dan
DN sehingga didapatkan persentase IV ilalang sebesar 95,32%, dan nilai IV
dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies ilalang sebesar
31,27%
v Lokasi :
Sumber Sari musiman
Luas plot :
5x5 m2 = 25 m²
c. TabelPerhitungan
SDR
|
No.
|
Spesies
|
Kerapatan
|
Frekuensi
|
Dominansi
|
LBA
|
IV
(%)
|
SDR
(%)
|
|||
|
Mutlak
|
Nisbi
(%)
|
Mutlak
|
Nisbi (%)
|
Mutlak
|
Nisbi (%)
|
|||||
|
1.
|
Jagung
|
0,2
|
100%
|
1
|
100%
|
61,8
|
100%
|
309
|
300%
|
100%
|
|
|
Total
|
0,2
|
100%
|
1
|
100%
|
61,8
|
100%
|
309
|
300%
|
100%
|
d.
Uraian perhitungan SDR
Kerapatan Mutlak (KM)
·
Jagung =
504 = 100,8
5
Kerapatan
Nisbi (KN)
·
Jagung
= 100,8 x 100% = 100
100,8
Frekuensi
Mutlak (FM)
·
Jagung
= 5 = 1
5
Frekuensi
Nisbi (FN)
·
Jagung
= 1 x 100% = 100
1
Luas
Basal Area (LBA)
·
Jagung
= 216 x 9 x 2
= 1944 x 2 = 486 x 0,63 = 309,55
4 π 4
3,14
Dominansi
Mutlak (DM)
·
Jagung
= 309,55 = 12,38
25
Dominansi
Nisbi (DN)
·
Jagung
= 12,38 x 100% = 100
12,38
Nilai
Penting( Importance Value = IV)
·
Jagung = KN + FN + DN
= 100
+ 100 + 100
= 300
Summed
Dominance Ratio (SDR)
·
Jagung
= IV = 300 = 100
3 3
Interpretasi data tabel (Malang )
A.
Jagung
Dari hasil pengamatan analisa vegetasi di kebun percobaan
Malang didapatkan bahwa nilai kerapatan mutlak vegetasi jagung di dalam plot
yang berukuran 5x5 m2 sebesar 1 dengan kerapatan nisbi sebesar 100%.
Sedangkan
besar frekuensi mutlaknya adalah 1 dan frekuensi nisbinya sebesar 100%. Nilai
dominansi mutlak Jagung dalam plot sebesar 12,38 dengan persentase dominansi
nisbi sebesar 100%.
Diketahui Jagung
memiliki d1 sebesar 216 cm dan d2 sebesar 9 cm didapatkan Luas Basal Area (LBA)
sebesar 309,55 m. Besar Nilai Penting (Important Value) didapatkan dari jumlah
antara KN, FN, dan DN sehingga didapatkan persentase IV Jagung sebesar 300%,
dan nilai IV dibagi tiga dapat kita ketahui besar persentase SDR spesies jagung
sebesar 100%.
4.1.2 Faktor Abiotik (Tanah)
Pada kelompok praktikum Minggu, 4
November 2012 Jam 06.00 WIB
tidak melakukan pengamatan biomassa pohon, kerapatan dan
struktur kanopi, tabal seresah
karena kelompok kita baik Cangar maupun Jatikerto mendapatkan pengamatan
tanaman semusim sehingga tidak ada data yang bisa dijelaskan.
4.1.3
Faktor Biotik
(Keanekaragaman Arthoropoda dan Agroekosistem)
Nama Lokasi :
Canggar
Jenis Penggunaan Lahan : Tanaman
Tanggal/Bulan/Tahun :
4 November 2012
Ukuran Plot :
5x5 m2
|
NO
|
Gambar
|
Klasifikasi
|
Bioekologi (Daur/siklus hidup, Peran, Habitat,
dan Perilaku
|
|
1.
|
Walang sangit
|
Kingdom:
Animalia
Filum
Arthropoda
Kelas:
Insekta
Ordo
: Hemiptera
|
a.Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II –
Imago
b. Peran:
1.
Sebagai organisme ekosistem
sawah/perkebunan
2.
Sebagai konsumen 1dalam rantai
makanan
3. Sebagai
serangga hama Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
c. Habitat:
Dedaunan, semak
d.Ciri-Ciri:
1.
Tubuh terdiri dari kepala, dada,
perut.
2.
Memiliki 3 pasang kaki
3.
Memiliki 2 anthena
4.
Pertahanan tubuh, dapat
mengeluarkan bau menyengat apabila terancam
5. Memiliki
2 sayap membrane
|
|
2
|
Sejenis dengan wereng
|
Kingdom:
Animalia
Filum:
Arthropoda
Ordo
: Homoptera
Kelas : Insekta
|
a.Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
b. Peran:
1.
Sebagai organisme ekosistem sawah
2.
Sebagai konsumen 1 dalam rantai
makanan
3.
Sebagai serangga hama
4. Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
c. Habitat:
Dedaunan, semak, kotoran hewan,
tanah lembab
d. Ciri-ciri:
1.
Tubuh terdiri dari kepala, dada,
perut.
2.
Memiliki 3 pasang kaki
3.
Memiliki 2 anthena
4. Memiliki
2 sayap membrane
|
|
3.
|
Belalang
daun
|
Kingdom:
Animalia
Filum
Arthropoda
Kelas:
Insekta
Ordo
: Orthoptera
|
a.Siklus
hidup:
Telur - Nimfa
I - Nimfa II – Imago
b. Peran:
1.
Sebagai
organisme ekosistem sawah
2.
Sebagai
konsumen 1 dalam rantai makanan
3.
Sebagai
serangga hama
4.
Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
5.
Sebagai
barometer lingkungan
c. Habitat:
Dedaunan,
semak
d. Ciri-ciri:
1.
Tubuh terdiri
dari kepala, dada, perut.
2.
Memiliki 3
pasang kaki, kaki paling belakang sebagai pendorong (meloncat)
3.
Memiliki 2
anthena
4.
Memiliki
sepasang sayap membrane luar dan sepasang sayap membrane dalam
|
|
4.
|
Jangkrik
|
Kingdom:
Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas
: Insekta
Ordo
: Orthoptera
|
a.
Siklus hidup: Telur -Nimfa I - Nimfa II - Imago
b.
Peran:
1. Sebagai
organisme ekosistem sawah
2. Sebagai
konsumen 1 dalam rantai makanan
3. Sebagai
serangga hama
4. Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
5. Sebagai
barometer lingkungan
c.Habitat:
Dedaunan,
semak
d.
Ciri-ciri:
1. Tubuh
terdiri dari kepala, dada, perut.
2. Memiliki
3 pasang kaki, kaki paling belakang sebagai pendorong (meloncat)
3. Memiliki
2 anthena
4. Memiliki
sepasang sayap membrane luar dan sepasang sayap membrane dalam.
|
|
5.
|
Lalat Sawah
|
Kingdom
: Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Hymenoptera
|
a.Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II -
Imago
b. Peran:
1. Sebagai
organisme ekosistem sawah
2. Sebagai
konsumen 1 dalam rantai makanan
3.
Sebagai barometer keseimbangan
ekosistem
c.Habitat:
Dedaunan, semak
d. Ciri-ciri:
1. Tubuh
terdiri dari kepala, dada, perut.
2. Memiliki
3 pasang kaki
3. Memiliki
2 anthena
4. Memiliki
sepasang sayap membrane sebagai hilter
|
|
6.
|
Semut bersayap
|
Kingdom
: Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Isoptera
|
a. Siklus hidup:
Telur - Nimfa I - Nimfa II - Pekerja
/ prajurit / nimfa fertil
b. Peran:
1. Sebagai
organisme ekosistem sawah
2. Sebagai
konsumen 1 dalam rantai makanan
3. Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
4. Sebagai
barometer lingkungan
c. Habitat:
Dedaunan, semak, Tanah
d. Peran:
1.
Sebagai organisme ekosistem sawah
2.
Sebagai konsumen 1 dalam rantai
makanan
3. Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
4. Sebagai
barometer lingkungan
|
|
7.
|
laba-Laba
|
Kingdom
: Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Arachidae
Ordo
: Arachinodeae
|
a.Siklus
hidup:
Telur -
Laba-laba - Laba-laba dewasa
b. Peran:
1.
Sebagai
organisme ekosistem sawah
2.
Sebagai
konsumen 1/2 dalam rantai makanan
3.
Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
4.
Sebagai
barometer lingkungan
5.
Dapat
menyebabkan kerugian secara fisik, apabila tergigit (racun).
c. Habitat:
Dedaunan,
semak, Tanah, Ranting
d. Ciri-ciri:
1.
Tubuh terdiri
dari kepala, dada, perut.
2.
Memiliki 4
pasang kaki
3.
Memiliki Racun
4.
Tidak memiliki
sayap
|
Nama Lokasi :
Jatikerto
Jenis Penggunaan Lahan : Tanaman Musiman
Tanggal/Bulan/Tahun : 4 November 2012
Ukuran Plot :
5x5 m2
|
NO
|
Gambar
|
Klasifikasi
|
Bioekologi (Daur/siklus
hidup, Peran, Habitat, dan Perilaku)
|
|
1
|
Belalang
|
Kingdom: Animalia
Filum: Artropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Orthoptera
|
a. Siklus Hidup:
Telur-larva-imago
b. Peran :
1. Sebagai predator
2. Perusak bahan
simpanan
3. Perusak tanaman
c.Habitat:
terdapat di pohon.
d.Ciri-ciri:
1. Antena pendek
2. Ovipositor pendek
3. Ukuran tubuh betina lebih
besar di banding jantan
4. Mempunyai alat suara (tympana)
yang terletak di ruas abdomen pertama
|
|
2.
|
Semut Hitam Besar
|
Kingdom : animalia
Filum : artropoda
Kelas : insecta
Ordo : hymenoptera
|
a.
Siklus Hidup:
Telur-
telur telah dibuahi, semut yang ditetaskan betina (diploid),
jantan (haploid)-metamorfosa
yang lengkap, melewati tahap larva
dan pupa
(dengan pupa yang exarate) - dewasa.
b. Peran:
1. Sebagai
hama
2. Predator
c. Habitat
: Pasir
d.
Ciri-ciri:
1. Di
bagian dada semut terdapat tiga pasang kaki
2. Di
ujung setiap kakinya terdapat semacam cakar kecil yang membantunya memanjat
dan berpijak pada permukaan
3. Terdapat
sepasang antena
|
|
3.
|
Laba-laba
|
Kingdom : animalia
Filum : arthropoda
Kelas : insekta
Ordo: araneae
|
a. Siklus Hidup:
Telur-nimfa-imago
b. Peran : hama
c. Habitat :
terdapat di dedaunan.
d.Ciri-ciri:
1.
Badan oval memanjang, kuat, dan tegap
2.
Ukuran tubuh sedang
3.
Berwarna merah/ coklat/ hitam
4.Femur
kaki depan tidak menebal
5.
Terdapat antena 4 ruas.
|
Nama Lokasi :
Sumber sari
Jenis Penggunaan Lahan : Tanaman Musiman
Tanggal/Bulan/Tahun : 4 November 2012
Ukuran Plot :
5x5 m2
|
NO
|
Gambar
|
Klasifikasi
|
Bioekologi (Daur/siklus
hidup, Peran, Habitat, dan Perilaku)
|
|
1
|
Belalang
|
Kingdom: Animalia
Filum: Artropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Orthoptera
|
a. Siklus Hidup:
Telur-nimfaI-nimfaII-imago
b. Peran :
1.SebagaiOrganisme Ekosistem Sawah /kebun
2. Sebagai konsumen 1 dalam rantai
makanan
3. Sebagai serangga Hama
4. Sebagai Barometer keseimbangan
ekosistem
c.Habitat:
dedaunan,semak
d.Ciri-ciri:
1. Tubuh
terdiri dari Kepala, dada, perut
2. Memiliki
3 Pasang kaki
3. Memiliki
2 anthena
4. Memiliki
sayap ganda (luar dan dalam)
5. Fungsi
kaki belakang sebagai pendorong
(jumping)
|
|
2.
|
|
Kingdom: Animalia
Filum
Arthropoda
Kelas: Insekta
Ordo : Hemiptera
|
a.Siklus hidup:
Telur - Nimfa I -
Nimfa II – Imago
b. Peran:
4. Sebagai
organisme ekosistem sawah/perkebunan
5. Sebagai
konsumen 1dalam rantai makanan
6.
Sebagai serangga hama Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
c. Habitat:
Dedaunan, semak
d.Ciri-Ciri:
1. Tubuh
terdiri dari kepala, dada, perut.
2. Memiliki
3 pasang kaki
3. Memiliki
2 anthena
4. Pertahanan
tubuh, dapat mengeluarkan bau menyengat apabila terancam
|
|
3.
|
|
Kingdom : Animalia
Sub Kingdom : Invertebrata
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
|
a. Siklus Hidup:
embrio è larva I èlarva II èlarva III èprepupa
èpupa
è
imago
b. Peran : hama
c. Habitat :
terdapat di dedaunan.
d.Ciri-ciri:
|
4.2
Pembahasan
4.2.1
Analisis Vegetasi dan Faktor Abiotik
Dari hasil praktikum lapang Ekologi Pertanian yang dilakukan
di Cangar, kami mengamati vegetasi tanaman gandum.Secara kasat mata ditemukan
juga tanaman lain yaitu gulma. Dengan perbandingan SDR 78,77% : 21,22%
antara gandum dan gulma membuktikan bahwa ada faktor dari vegetasi gulma yang menghambat pertumbuhan dari
gandum.
Dari hasil praktikum lapang Ekologi Pertanian yang
dilakukan di Jatikerto, kami mengamati vegetasi tanaman singkong. Secara kasat
mata ditemukan tanaman lain yaitu rumput teki, rumput gajah lokal dan rumput
gajah afrika. Dengan perbandingan SDR 89,69% : 42,71% : 31,77% antara rumput teki dengan rumput gajah lokal dengan
rumputgajah afrika membuktikan bahwa ada faktor dari vegetasi gulma yang
menghambat singkong.
Dari hasil praktikum lapang Ekologi Pertanian yang dilakukan
di Malang, kami mengamati vegetasi tanaman yaitu jagung. Secara kasat mata
tidak ditemukan tanaman lain selain jagung. Diperkuat dengan jumlah SDR
jagung sebesar 100%. Tidak ada faktor dari tanaman lain
yang mempengaruhi pertumbuhan jagung tersebut.
4.2.2
Faktor Abiotik
(Tanah)
Dari hasil praktikum
lapang Ekologi Pertanian yang dilakukan di Malang, Jatikerto dan Canggar
tanaman musiman, kami tidak mengamati biomasa, seresah. Kami hanya mengamati warna tanah, suhu tanah, dan hewan yang dijumpai. Setelah itu dimasukkan dalam tabel data
pengamatan yang telah disediakan
4.2.3
Faktor Biotik
(Keragaman Arthropoda pada Agroekosistem)
Dari hasil praktikum
lapang Ekologi Pertanian yang di Malang, Jatikerto,
dan Canggar. Kami menemukan berbagai
macam spesies, seperti Laba-Laba, Belalang, Semut Hitam, Walang sangit,
Belalang daun, Jangkrik dan lain-lain.
a.
Jangkrik
A.
Klasifikasi
Jangkrik
Ordo: Orthoptera
B. Bioekologi Jangkrik
Siklus Hidup
Nimfa
I - Nimfa II – Imago
Peran:
1. Sebagai
organisme ekosistem sawah
2. Sebagai
konsumen 1 dalam rantai makanan
3. Sebagai
serangga hama
4. Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
5. Sebagai
barometer lingkungan
Habitat:
Dedaunan, semak
Ciri-ciri:
1. Tubuh
terdiri dari kepala, dada, perut.
2. Memiliki
3 pasang kaki, kaki paling belakang sebagai pendorong (meloncat)
3. Memiliki
2 antena
4. Memiliki
sepasang sayap membrane luar dan sepasang sayap membran dalam.
b. Belalang
A. Klasifikasi Belalang
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insekta
Ordo: Orthoptera
B. Bioekologi Belalang
Siklus Hidup: Telur-larva-imago
Peran:
1.
Sebagai predator
2.
Perusak bahan
simpanan
3.
Perusak tanaman
Habitat : terdapat di
pohon.
Ciri-ciri:
1.
Antenna pendek
2.
Ovipositor
pendek
3.
Ukuran tubuh
betina lebih besar di banding jantan
4.
Mempunyai alat
suara (tympana) yang terletak di ruas abdomen pertama
c.
Laba-Laba
A. Klasifikasi Laba-laba
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Arachnida
Ordo: Araneae
B. Bioekologi
laba-laba.
Siklus Hidup: Telur-nimfa-imago
Peran: hama
Habitat: terdapat di dedaunan.
Ciri-ciri:
1.
Badan oval
memanjang, kuat, dan tegap
2.
Ukuran tubuh
sedang
3.
Berwarna
merah/coklat/hitam
4.
Femur kaki depan
tidak menebal
d.
Semut Hitam
Besar
A.
Klasifikasi
Ilmiah
Kingdom: animalia
Filum: Artropoda
Kelas: Insekta
Ordo: Hymenoptera
B.
Bioekologi Semut
Hitam Besar
Siklus Hidup: Telur- telur telah
dibuahi, semut yang ditetaskan betina (diploid), jantan (haploid)-metamorfosa
yang lengkap, melewati tahap larva dan pupa (dengan pupa yang exarate) -
dewasa.
Peran:
1.
Sebagai hama
2.
Predator
Habitat : Pasir
Ciri-ciri:
1.
Di bagian dada
semut terdapat tiga pasang kaki
2.
Di ujung setiap
kakinya terdapat semacam cakar kecil yang membantunya memanjat dan berpijak
pada permukaan
3.
Terdapat
sepasang antenna
e. Walang sangit
A.
Klasifikasi
Walang sangit
Kingdom: Animalia
Filum Arthropoda
Ordo : Hemiptera
Kelas: Insekta
B.
Bioekologi
Walang sangit
Siklus hidup: Telur
- Nimfa I - Nimfa II – Imago
Peran:
1.
Sebagai
organisme ekosistem sawah/perkebunan
2.
Sebagai konsumen
1dalam rantai makanan
3.
Sebagai serangga
hama Sebagai barometer keseimbangan ekosistem
Habitat: Dedaunan,
semak
Ciri-Ciri:
1.
Tubuh terdiri
dari kepala, dada, perut.
2.
Memiliki 3
pasang kaki
3.
Memiliki 2 antena
4.
Pertahanan
tubuh, dapat mengeluarkan bau menyengat apabila terancam
5.
Memiliki 2 sayap
membrane
f. Sejenis dengan wereng
A.
Klasifikasi
Sejenis dengan wereng
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Ordo: Homoptera
Kelas : Insekta
B.
Bioekologi
Sejenis dengan wereng
Siklus
hidup: Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
Peran:
1. Sebagai
organisme ekosistem sawah
2. Sebagai
konsumen 1 dalam rantai makanan
3. Sebagai
serangga hama
4. Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
Habitat:
Dedaunan, semak, kotoran hewan, tanah lembab
Ciri-ciri:
1. Tubuh
terdiri dari kepala, dada, perut.
2. Memiliki
3 pasang kaki
3. Memiliki
2 anthena
4. Memiliki
2 sayap membrane
g. Belalang Daun
A. Klasifikasi Belalang daun
|
Kingdom: Animalia
Filum
Arthropoda
Kelas:
Insekta
|
Ordo:
Orthoptera
B. Belalang Daun
|
Siklus
hidup: Telur - Nimfa I - Nimfa II – Imago
Peran:
1.
Sebagai
organisme ekosistem sawah
2.
Sebagai
konsumen 1 dalam rantai makanan
3.
Sebagai
serangga hama
4.
Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
5.
Sebagai
barometer lingkungan
Habitat: Dedaunan, semak
Ciri-ciri:
1.
Tubuh terdiri
dari kepala, dada, perut
2.
Memiliki 3
pasang kaki, kaki paling belakang sebagai pendorong (meloncat)
3.
Memiliki 2 antena
4.
Memiliki
sepasang sayap membrane luar dan sepasang sayap membran dalam
|
h. Semut Bersayap
A.
Klasifikasi
Semut Bersayap
|
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
|
Ordo
: Hymenoptera
B.
Bioekologi Semut
Bersayap
|
Siklus
hidup: Telur - Nimfa I - Nimfa II - Pekerja / prajurit / nimfa fertil
Peran:
1. Sebagai
organisme ekosistem sawah
2. Sebagai
konsumen 1 dalam rantai makanan
3. Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
4. Sebagai
barometer lingkungan
Habitat: Dedaunan, semak, Tanah
Peran:
1. Sebagai
organisme ekosistem sawah
2. Sebagai
konsumen 1 dalam rantai makanan
3. Sebagai
barometer keseimbangan ekosistem
4. Sebagai
barometer lingkungan
|
i.
Lalat Sawah
|
A. Klasifikasi
Lalat Sawah
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas:
Insekta
|
Ordo: Hymenoptera
B.
Bioekologi Lalat
Sawah
|
Siklus
hidup: Telur - Nimfa I - Nimfa II - Imago
Peran:
1.
Sebagai organisme ekosistem sawah
2.
Sebagai konsumen 1 dalam rantai
makanan
3.
Sebagai barometer keseimbangan
ekosistem
Habitat:
Dedaunan, semak
Ciri-ciri:
1. Tubuh
terdiri dari kepala, dada, perut.
2. Memiliki
3 pasang kaki
3. Memiliki
2 anthena
4. Memiliki
sepasang sayap membrane sebagai hilter
|
V.
PENUTUP
Kesimpulan
· Analisa vegetasi adalah cara mempelajari
susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan.
·
Arthropoda adalah filum yang
paling besar dalam dunia yang
mencakup serangga,
laba-laba, udang, lipan dan
hewan sejenis lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku.
·
Faktor abiotik yang mempengaruhi analisa
vegetasi adalah suhu udara dan radiasi matahari.
·
Arthropoda terutama serangga mempunyai
beberapa peran dalam ekologi, yaitu : sebagai predator, hama, dan parasitoid.
·
Dari
pratikum lapang yang dilakukan oleh kelompok kita yang ada di Malang, Cangar,
dan di Jatikerto terdapat perbedaan Vegetasi dan Arthopoda yang kita amati dan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Ukuran dari arthopoda
2. Ketinggian tempat
3. Suhu
4. Intensitas radiasi matahari
5. Kerapatan vegetasi
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2012.Definisi Ekologi Pertanian.http://mukegile08.wordpress.com/2012/02/12/pengertian-dan-prinsip-ekologi/. Diakses tanggal 11 November 2012
Anonymous.2010.Definisi Analisis
Vegetasi.http://vegetasi2.blogspot.com/2010/12/analisis-vegetasi.html. Diakses tanggal 11 November 2012
Borneo.2012.Definisi
Arthropoda.http://pertaniant3.blogspot.com/2011/04/pengerrtian-art.Diakses tanggal 11 November 2012
Steenis, J. van.1992.Flora. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Lilies,
Cjristina.1991. Kunci Determinasi
Serangga. Yogyakarta:Kanisius.